Hayo Kita Gunakan Produk Lokal!! :)

•June 6, 2009 • 4 Comments

Agak nyambung ama postan gw yg sebelumnya:

Di sana kan gw berpendapat bahwa Sistem Ekonomi Neoklasik telah gagal untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. Salah satunya sebabnya adalah tidak berjalannya “multiplier effect” yang diharapkan mampu merangsang perekonomian di tingkat yg lebih bawah.

Nah, salah satu cara menjalankannya adalah dengan menggerakkan sektor riil (produksi) kita.

Dalam kaitannya dengan hal ini, kita juga bisa berpartisipasi untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa kita. Yaitu dengan menggunakan produk-produk lokal kita, jadi industri lokal kita bisa maju, penyerapan tenaga kerja akan lebih besar yang nantinya akan meningkatkan daya konsumsi masyarakat kita juga..

Selama ini kita selalu menganggap produk lokal kita jelek, ga berkualitas, dan kalah kelas dibandingkan dengan produk luar negeri..ternyata ga juga kok..banyak produk2 lokal kita yg punya kualitas bagus juga..maka dari itu gw coba bantu kumpulin produk lokal kita yg punya kualitas ok disini..gw kumpuliin dari ngubek2 internet n buka thread di kaskus..hehehe..

Ohya, tadi sore gw liat majalah SWA bulan lalu, ternyata lg membahas 250 brand lokal terbaik..wah, jadi tertarik buat nyari tu majalah gw (baru kali ini gw tertarik liat SWA :p)..nyari list lengkapnya di Webnya SWA ga nemu euy..
kalo ada yg bisa nemuin ato bantu ngelengkapin list gw ini, I really2 apreciated it :)

Sementara ini baru gw bagi jadi 4 kategori aja:

Pakaian:
1. Sofie
2. Biyan
3. M2000
4. (X)SML
5. Joger
6. Dagadu
7. Dannis Collection
8. Suzanna Wanasuka
9. Nail
10. Lea Jeans
11. The Executive
12. Wood
13. Stanley Adam
14. Country Fiesta
15. GT Man
16. Batik Semar, Batik Keris, dll
17. PS
18. Ocean Line
19. Hammer
20. Nevada
21. Poshboy
22. Jackerton
23. Cardinal
24. Watchout
25. Triset

Sepatu & Tas:
1. Buccheri
2. Yongki Komaladi
3. Cibaduyut
4. Edward Forrer
5. Diaz
6. Bagteria (tas)
7. EIGER
8. Piero
9. Sophie Martin
10. Zeintin
11. Exsport
12. Neosack
13. Bodypack
14. Elizabeth
15. Sebastian Reza (thx for gan, gw cari ntar ni spatu)
16. Ardilles
17. Spotec
18. New Era
19. Specs
20. President (Koper)
21. Zandilac
22. Carvil
23. Pakalolo

Elektronik:
1. Maspion
2. ION Notebook
3. Relion
4. Axioo
5. Byon
6. Zyrex
7. Muscle Power (memory)
8. PCP Motherboard
9. Sanken
10. Miyako
11. Kirin
12. Polytron
13. GTC monitor

Otomotif:
1. Tawon
2. Arina
3. Kanzen, Vipros

Others:
1. J.co, Excelso n restocafe2 lain..
2. Indomie,Equil dan produk makanan lain (banyak bgt soalnya)
3. Nusantara Online
4. Zahir (program)
5. Arfi Toys (Action Figure)
6. KASKUS
7. Hal Mar Sanitary
8. Vinoti Living
9. Polygon, Wim cycle, United (sepeda)
10. Cat Mowilek & Avian
11. Olympic & Ligna
12. Vinilon
13. Achilles, Swallow, GT Radial (Ban)
14. Penguin (tangki)
15. Sango (piring)
16. Essenza, Roman, Kanmuri
17. Peci H. Iming

Nama lokal tp punya asing:

Pemilik 65% saham ABC sekarang adalah HJ Heinz (AS).
Sariwangi, Bango, dan Taro sudah 100% milik Unilever.
Aqua, 74% dikuasai Danone (Prancis).
Helios dan Nyam-Nyam total dipegang Cambell (AS).
Ades milik Cocacola Amerika.
SGM lewat Sari Husada 82% dimiliki Numico (Belanda).
Semen Tiga Roda bikinan Indocement dipegang Heidelberg Jerman, sedangkan Semen Gresik oleh Cemex Meksiko.

Maju terus industri Indonesia!!!!

beberapa sumber:
http://www.swa.co.id/cetak.php?cid=1&id=1330&url=http%3A%2F%2Fwww.swa.co.id%2Fswamajalah%2Fsajian%2Fdetails.php%3Fcid%3D1%26id%3D1330
http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=9224&pageNum=1
http://kuntum2008.multiply.com/journal/item/101/Krisis_Global_..Ayo_Back_To_Produck_Lokal_
http://www.swa.co.id/cetak.php?cid=1&id=1333&url=http%3A%2F%2Fwww.swa.co.id%2Fswamajalah%2Fsajian%2Fdetails.php%3Fcid%3D1%26id%3D1333
dan kaskuser tentunya…:ilovekaskus:

Kritisi Sistem Ekonomi Nasional

•May 31, 2009 • 1 Comment

Latar Belakang

Dari dulu gw ngerasa malees bgt kalo belajar tentang ekonomi, ga tau kyknya susah aja gitu masuk ke otak (gara2 bacanya males2an juga si.. ;p). Tapi kondisi ekonomi di Indonesia yang makin carut marut ini membuat gw tertarik untuk mulai baca2 buku tentang ekonomi. Sebenernya kenapa sih dari dulu kita ga bisa makmur2? Itu pertanyaan yang muncul di otak gw.

Setelah cukup berpusing-pusing ria membaca beberapa buku, gw mulai mendapatkan titik terang apa sebenarnya permasalahan ekonomi Indonesia saat ini. Masalahnya adalah, Sistem Ekonomi yang digunakan di Indonesia saat ini membuat kita tidak bisa mandiri, ekonomi nasional kita belum bisa lepas dari ketergantungan terhadap ekonomi Internasional, sehingga sangat labil dan mudah goyah.

Sistem Ekonomi Indonesia saat ini

Sistem Ekonomi di Indonesia saat ini menurut gw udah sangat melenceng jauh daripada apa yg sebenarnya dibangun oleh para Founding Fathers kita. Saat ini kita terjebak di dalam sistem ekonomi neoklasik (sejak adanya Washington Consensus di akhir tahun 1980an dikenal juga dengan neoliberalisme), yang memiliki asumsi dasar sebagai berikut:

  1. Kebutuhan manusia tak terbatas
  2. Sumber Daya terbatas
  3. Utility maximization of self interest yg relatif tak terbatas.

Dari 3 asumsi dasar itu, timbul anggapan bahwa naluri dasar manusia adalah untuk bertarung untuk memperebutkan sumber daya. Manusia disebut sebagai homo economicus (utilitarian, opportunistic, individualistic, self-centred rationalist, materialistic) , bukan sebagai homo ethicus (cooperative, truthfull, virtuous).

Dari pandangan inilah muncul prinsip ekonomi yang diajarkan kepada kita mulai dari SMP, “pengorbanan sekecil2nya untuk hasil sebesar2nya”. Teori dan Hukum dasar ekonomi (division of labour) yg dicanangkan oleh Adam Smith juga berkaitan dengan hal ini. Dengan teori invisible hand-nya, Smith menentang intervensi dari negara, dan membatasi peran negara di bidang pertahanan, hukum, dan pekerjaan publik saja.

Ga usah diperdebatkan lagi lah ya, emang sistem ekonomi seperti ini yang sekarang berjalan di Indonesia. Dari SMP ampe kuliah kyknya isi pelajaran ekonomi bab 1 pasti kyk gt..hehehe..

Sistem ekonomi yang berjalan di Indonesia dari awal tahun 1970an ini (yup, dari awal2 jaman Pak Harto) sebenarnya sangat bertentangan dengan dasar negara kita. Kalau kita lihat dasar UUD 1945, Indonesia diarahkan untuk menjadi suatu negara Sosialis-Demokratis atau SosioNasionalis (tp ga kyk NSDAP/NAZI-nya hitler yah ;p).

Sistem ekonomi pancasila (atau yang sekarang disebut-sebut ekonomi kerakyatan) mengandung suatu moralitas ekonomi yang berakar pada kedaulatan rakyat, dimana kepentingan masyarakat lebih utama dari kepentingan individu. Hubungan ekonomi berdasarkan asas kekeluargaan bukan asas individualisme. Masalah ekonomi bukan hanya soal persaingan, akan tetapi juga soal bekerjasama (koperasi). Dan pengutamaan kepentingan nasional tanpa melupakan tanggung jawab global.

Ironisnya, hanya sistem ekonomi neoklasiklah yang dikembangkan di lingkungan akademik di Indonesia. Bahkan dianggap satu-satunya paham yang paling benar. Profesor-profesor di Indonesia yang berpandangan strukturalisme atau yang menganut kapitalisme ala Jerman dan Perancis dikucilkan, dianggap naif, bahkan ada yang disingkirkan dari pemerintahan, contohnya: Pak Soemitro Djojohadikusumo diberhentikan dari menteri keuangan/ekonomi menjadi menteri pertambangan karena saat itu ingin mengadaptasi sistem ekonomi Jerman di Indonesia.

Kekurangan Sistem Ekonomi Pasar/Neoklasik/Neoliberal

Dalam suatu tulisannya (1936), Bung Hatta pernah menulis bahwa:

“Teori Adam Smith berdasar pada perumpamaan bahwa manusia adalah orang ekonomi, yang mengetahui keperluannya setinggi2nya, yang mengetahui kedudukan pasar, yang pandai berhitung secara ekonomi dan rasional, dapat menimbang sendiri apa yang beruntung baginya dan apa yang merugikan dan kemudian ia sama kuat dan sama paham dengan lawannya.

Akan tetapi orang ekonomi seperti lukisan ini hanya ada dalam dunia pikiran, sebagai dasar bekerja bagi penyelidik ilmu, dan tak ada dalam masyarakat yang lahir, yang menyatakan satu golongan kecil yg aktif dan bermodal cukup, yang memutuskan segala soal ekonomi, dan satu golongan besar, orang banyak, yang pasif dan lambat, yang tiada mempunyai tenaga ekonomi, yang kehidupannya terserah kepada keputusan golongan yang pertama..

sebab itu dalam praktik laisser-faire stelsel – persaingan merdeka dll – tidak bersua maksimum kemakmuran yang diutamakan oleh Adam Smith..Ia memperbesar mana yang kuat, menghancurkan mana yang lemah ”

Tulisan Bung Hatta di tahun 1936 itu terbukti benar sampai saat ini, ditandai oleh semakin besarnya angka Gini Index Ratio (ukuran kesenjangan) di negara-negara yang menganut sistem ekonomi kapitalisme/neoklasik (termasuk di Indonesia).

Ketidakadilan ini tidak hanya terjadi intranation akan tetapi internation juga. Kalau dipikir-pikir, kenapa sih Amerika dan Inggris selalu memperjuangkan masalah globalisasi dan Perdagangan bebas di dunia ini? (sampai2 di G-20 summit kemarin Perancis ama Jerman kesal). Karena merekalah yang “kuat” di dalam sistem dunia ini, yang memiliki modal, yang butuh tempat investasi murah, yang akhirnya mengeksploitasi negara-negara berkembang/ ”lemah” seperti Indonesia.

Akibatnya, Sistem Ekonomi pasar ini juga menghambat Indonesia untuk mencapai kemandirian ekonomi, bangsa kita ini dituntut untuk terus menjadi eksportir bahan baku, menjadi tempat tenaga kerja murah bagi perusahaan-perusahaan asing dan tidak memiliki jaringan industri yang lengkap dari hulu ke hilir.

Isu saat ini: Neoliberalisme Baik atau Buruk?

Pemerintah kita saat ini tampaknya tidak mau mengakui bahwa selama ini kita menjalankan sistem ekonomi neoklasik. Presiden kita selalu menyangkalnya, calon wakilnya pun demikian, tidak mengakui bahwa dirinya penganut aliran neoklasik.

Dalih mereka adalah saat ini Indonesia tidak menerapkan pasar bebas, dan pemerintah masih melakukan beberapa intervensi dalam beberapa kebijakan2 ekonomi.

Menurut gw, dalih mereka ini justru menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti apa yg dimaksud dengan neolib. Neolib bukanlah hanya sebatas permasalahan free trade atau bukan. Tapi dari pola pikir, policy, serta “set of procedures” yang digunakan oleh pemerintah selama ini.

Pak Boediono di acara Economic Challenge di Metro TV berkata bahwa fokus pemerintah ke depan adalah menjaga pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sehingga kesejahteraan masyarakat Indonesia akan meningkat. Mungkin beliau sendiri tidak sadar statement beliau di acara tersebut menunjukkan bahwa ia adalah seorang penganut teori ekonomi neoklasik.

Sistem ekonomi neoklasik memang selalu berfokus pada pertumbuhan ekonomi, melihat pertumbuhan ekonomi secara makro melalui meningkatnya GDP, serta mengharapkan pertumbuhan ekonomi tersebut akan menstimulasi masyarakat lainnya untuk tumbuh(multiplier effect). Bertolak belakang dengan sistem ekonomi kerakyatan/pancasila yang mengutamakan pembangunan masyarakat, industri2 nasional serta “grass root ekonomi” sehingga nantinya ekonomi nasional akan tumbuh dengan sendirinya. Yah, kalo boleh gw simpulkan sistem ekonomi neoklasik tuh “result oriented”, sedangkan sistem ekonomi kerakyatan lebih ke “process oriented”.

Sistem ekonomi sebenarnya ga ada yg bener/salah, semuanya tergantung kondisi negara yang akan menggunakannya. Dan menurut gw, Indonesia ga cocok menggunakan sistem ekonomi neoklasik. Kenapa?karena Indonesia belum punya Sistem Perindustrian yang kuat dan belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri, karena dalam ekonomi neoklasik yg menang adalah yang besar dan yang memiliki modal. Sistem ekonomi neoklasik sangatlah cocok jika digunakan oleh negara2 yang sudah kuat secara finansial dan infrastruktur industrinya sudah lengkap (Kyk Cina).

Jika kondisi seperti ini berlanjut terus di Indonesia, tentu akan sangat berbahaya buat negeri kita. Kenapa bahaya? Coba kita telaah lagi sebenarnya apa yg sedang terjadi di negeri kita ini:

  1. Pertumbuhan ekonomi kita saat ini salah satunya kita dapatkan dari surplus neraca perdagangan, yang didapatkan dari meningkatnya nilai ekspor. Sebenarnya apa yg selama ini kita ekspor? Tentu saja bahan baku. Kenapa kita tidak mencoba mengolah bahan baku tersebut sendiri agar kita tidak perlu mengimpornya kembali dari luar negeri? Jika sistem seperti ini terus berlanjut, Indonesia ga bakalan bisa mandiri.
  2. Ketidakmampuan negara mengelola sumber daya alamnya sendiri juga disebabkan oleh paham neoklasik ini. Sebagai contoh: perusahaan minyak asing merajalela di Indonesia dan terus menerus mengeruk kekayaan negara kita, alasan pemerintah saat ini adalah Pertamina belum mampu memproses dan mengelola minyak secara efisien (cost produksinya sekitar $20/barrel) dibandingkan dengan perusahaan2 asing ($5-$8/Barrel). Menurut gw, seharusnya pemerintah bukannya malah melempar sumber daya kita untuk diolah oleh pihak asing, tapi mendidik dan menggunakan pertamina agar mereka bisa bekerja secara efisien.
  3. Multiplier Effect yg diharapkan oleh pemerintah tidak berjalan dengan baik, sehingga kesejahteraan masyarakat tak kunjung naik serta kesenjangan antara kaya dan miskin meningkat. Kenapa multiplier effect ini ga bisa terjadi? Sebagai ilustrasi simpel aja yah: “kalau orang udah kaya, dia bakal belanja di supermarket yg pastinya lebih nyaman daripada pasar tradisional, dia bakalan menggunakan produk2 berkelas dari luar negeri dibandingkan dengan produk-produk lokal jadi dananya ga bakalan mengalir ke kelas bawah”. Atau kalau kita mau ilustrasikan di dunia Industri : “Untuk menekan cost, perusahaan akan memilih komponen-komponen murah yg diimpor dari cina dibandingkan produk lokal yg mungkin lebih mahal atau belum teruji kualitasnya, efeknya adalah UKM kita ga ada yg maju”.
  4. Privatisasi BUMN yg semakin gencar dengan alasan profesionalisme dan efisiensi. Ini merupakan salah satu ciri utama dari neolib. BUMN merupakan aset negara, instrument of expansion, accumulation regime, seharusnya pemerintah membuat mereka bisa bekerja secara profesional dan efisien, bukan malah dilepas kepemilikannya ke swasta/asing. Itu namanya lari dari tanggung jawab. Pemerintah sekarang berencana melepas KAI dan PT.Krakatau Steel, sangatlah rugi jika kita jadi melepas KS ke Lakshmi Mittal. Industri baja adalah salah satu motor pengerak pembangunan nasional, dari sanalah nanti bisa berkembang industri otomotif nasional, perumahan rakyat, dll..

Semoga saja akan ada perubahan dari sistem ekonomi Indonesia ke depannya, sehingga bisa meningkatkan taraf hidup orang Indonesia (batas kemiskinannya jangan 200rb/bulanlah, kelewatan itu), dan menjadikan Indonesia sebagai negara yg mandiri dan maju.

I Say No to “Lanjutkan”!!

Sumber:

Regulation Theory’. Robert Boyer

‘Ekspose Ekonomika’. Sri Edi Swasono

Global Inequality’. David Held

Reformation or Ruination?

•April 16, 2009 • Leave a Comment

Kalo dipikir-pikir yah..Sejak tahun 1999, arah Indonesia tuh jadi ga jelas mau kemana.  Mungkin ini gara2 semua produk orde baru dianggap jelek dan diberangus, termasuk pelita/repelita, serta penyusunan GBHN.

Padahal, menurut gw, kesemuanya itu penting buat pembangunan Indonesia secara berkesinambungan ke depannya. Efeknya adalah pemerintahan yang tak memiliki arah yg jelas, semua kebijakan dibuat berdasarkan kepentingan politik partai-partai di parlemen, yang membuat arah pemerintahan dan kebijakan bisa disetir oleh pihak2 yang ga bertanggung jawab (termasuk pihak asing). Tiap 5 tahun sekali arah pembangunan berubah dan ga ada knowledge management yg jelas untuk para anggota legislatif yang baru.

Sebenernya siapa yg bisa disalahkan atas kondisi ini? Tentu saja anggota dewan periode 1999-2004, yang dipimpin oleh Pak Amien Rais. Merekalah pembuka gerbang kebobrokan konstitusi kita dengan melakukan amandemen thdp UUD 1945 tanpa berusaha mengerti UUD 1945 itu sendiri dan kelihatannya tanpa ada niat untuk melanjutkan apa yg telah digariskan oleh para founding fathers negara kita.

Salah satu tugas parlemen adalah membuat UU, nah dari taun 1999 sampai 2004 UU yang mereka rancang pun banyak yg melukai dan melanggar UUD 45 (bahkan berlanjut sampai 2009), seperti UU tentang pengolahan ESDM, UU ttg kesejahteraan sosial, UU BHP, dan rencananya bakalan ada UU Privatisasi air. Padahal UUD adalah suatu hukum dasar yang bersifat Top to Down (lupa gw istilah anak hukumnya), dan ga boleh ada UU lain yg bertentangan dengan si UUD itu.

Semuanya ini membuat gw berpikir, kok Indonesia kayaknya lama-lama bakalan jadi negara liberal kyk AS yah. Kebijakan-kebijakan kita merapat kesana semua. Apa ada peran AS dalam serentetan kejadian yang kita namakan reformasi?

Sejarahlah yang pada akhirnya menjawab pertanyaan ini. Kalo kita lihat dengan lebih teliti, perjalanan rezim Pak Harto mirip sekali dengan Presiden Chili (diktator) periode 1974-1990 Augusto Pinochet. Pinochet jadi presiden setelah mengkudeta Presiden Salvador Allende yang sosialis (padahal Allende terpilih secara demokratis). Pinochet ini pula yang memperkenalkan sistem pasar neoliberal di Chili.

Nih gw kutip dari wikipedia:

Kudeta yang dilakukan Pinochet terhadap Allende, bila dicermati amat mirip dengan yang diduga dilakukan Soeharto terhadap Soekarno yaitu setidaknya antara lain pada:

  • Beredarnya dokumen yang meresahkan tentang perencanaan pembunuhan beberapa jenderal dan komandan-komandan militer. Hal itu selain terjadi di Chile (dokumen rencana ‘Z’) juga Indonesia (Beredarnya daftar pejabat AD yang akan dibunuh dikalangan tokoh-tokoh buruh, politisi dan elit militer Chili).
  • Disebarnya isu yang menimbulkan keresahan dan ketidakstabilan poltitik dalam negeri. Di Chile masyarakat terutama serikat buruh militan dan jenderal-jenderal konservatif mendapat kiriman kartu-kartu kecil di mana tercetak kata-kata “Jakarta Se Acerca” (Jakarta Sudah Mendekat).”

Sebenernya kenapa sih saat itu Amerika butuh diktator-diktator kayak Pak Harto, Pinochet, atau Marcos di Filipina? Jawabannya satu, untuk membendung pengaruh paham komunis dan sosialis di dunia. Wajarlah kalo di zaman Pak Harto, komunis diberangus habis! Jatuhnya para diktator-diktator tsb juga di masa yg sama, yaitu di masa akhir perang dingin.

Khusus untuk Pak Harto, di masa-masa akhir jabatannya ia semakin dekat dengan kaum muslim (yang tadinya dimusuhi olehnya), bahkan pada tahun 1991 Pak Harto naik haji untuk pertama kalinya, larangan PNS pake jilbab mulai dihapus, berkembangnya ICMI, dll. Indonesia pun saat itu udah dianggap sebagai macan asia baru (1995). Mungkin hal2 tsb adalah salah dua alasan kenapa Pak Harto pada akhirnya dijatuhkan oleh AS oleh suatu proses yang kita namakan reformasi.

Sudah menjadi rahasia umum nampaknya kalo krisis ekonomi 1998 di kawasan asia tenggara disebabkan oleh ulah beberapa economic hitman seperti George Soros. Di dalam kondisi seperti itu, saat itu Pak Harto minta bantuan dari IMF, dan saran IMF adalah pemerintah harus mengencangkan ikat pinggang dengan menaikkan harga BBM, TDL, dsb. Usul ini, malah makin memperparah kondisi sosial di Indonesia saat itu (sumber: buku “Dari Soekarno ke SBY”). Demonstrasi2 makin luas, berkembang, dan pada akhirnya mundurlah Pak Harto.

Tokoh reformasi saat itu adalah Pak Amien Rais yang mendapatkan gelar Master dan Doktornya di AS, gw ga heran kalo dia agen darisana kyk Adam Malik..hehehe..(WallahuAlam).

Yang jelas, sejak tahun 1999, dasar konstitusi kita mulai diacak-acak. Bermula dari pemilu 1999 itu jugalah, para politisi Indonesia mulai berebutan kekuasaan tanpa mikirin gimana cara memajukan bangsa ini. (Maklumlah baru kali ini ngerasain yg namanya demokrasi).

Jadi gimana yah caranya agar kita bisa kembali ke jalur yang benar? Nah ini yang gw juga bingung. Mungkin para petinggi di negara kita disuruh duduk bareng dulu, baca UUD 45 n Pancasila, mikir dan merenung apa yang founding fathers kita harapkan untuk negara ini. Karena gw percaya, yang sudah mereka gariskan saat itu, memang yang paling cocok dengan kondisi di Indonesia.

Sekali lagi gw sebut jargon orde baru ini : “menjalankan UUD 45 dengan murni dan konsekuen”. Murni berarti ga dikotori oleh UU yg bertentangan dgn dasar negara kita tsb dan konsekuen berarti dijalankan secara terus menerus dan berkelanjutan.

Dengan menjalankan ini, nantinya semua partai politik di Indonesia akan bergerak dalam platform yang sama untuk memajukan bangsa. Bukan hanya sekedar alat perebutan kekuasaan dan pengaruh seperti sekarang ini.

Studi di Belanda, ticket to a global community

•March 30, 2009 • 3 Comments

kompetiblogbadge-neo3

Disclaimer: Tulisan ini dibuat dalam rangka partisipasi penulis dalam kompetiblog (hadiahnya summer school di Belanda euy!!) Doakan saya menang yah..hehehe..

Dari zaman kuliah, penulis sudah bermimpi untuk meneruskan kuliah ke luar negeri, terutama di negara-negara Eropa. Ada beberapa negara di Eropa yang membuat penulis sangat tertarik untuk pergi kesana :

  1. Perancis : Lebih karena pengaruh sang dosen pembimbing yang berasal dari sana. Selain itu, daya tarik Perancis sebagai tujuan wisata ga usah kita ragukan lagi, jadi niatnya belajar sambil berwisata gitu disana.(amin)
  2. Spanyol : Nah, alasan untuk belajar di negara ini lebih ga penting lagi, pengen bisa nonton pertandingan Barcelona di Nou Camp tiap minggu. (amin..amin)
  3. Belanda : Karena penulis sangat mencintai sejarah, maka negeri Belanda memiliki daya tarik tersendiri buat penulis (semoga bisa kesana, amin..amin..amin). Alasan-alasan lainnya kita jabarkan di bawah nanti.

Dari ketiga negara tersebut (dan negara-negara lain di Eropa), Belanda memiliki keunggulan yang sangat menonjol. Maka dari itu, sesuai dengan tema artikel kita, kita akan bahas tentang studi di negeri Belanda lebih jauh.

Gambar 1. Keindahan Amsterdam di sore hari (Sumber gambar: www.amsterdamaccommodation.wordpress.com)

Gambar 1. Keindahan Amsterdam di sore hari (Sumber gambar: www.amsterdamaccommodation.wordpress.com)

Belanda : Pusat Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Sebenarnya apa sih kelebihan negeri Belanda dibandingkan dengan negara-negara lain dalam hal pendidikan?

Satu hal yang pasti, Belanda merupakan salah satu dari pusat perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa. Bidang-bidang keilmuan yang berkembang pesat di Belanda antara lain :

1. Teknik dan Arsitektur

Dalam bidang teknik dan arsitektur, keunggulan Belanda sudah tidak perlu diragukan lagi. Sebagai negara yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut, mereka dituntut untuk maju dalam bidang konstruksi dan perawatan dam. Bukti kehebatan Belanda di bidang arsitektur bahkan bisa kita lihat di Indonesia, berbagai macam gedung bekas pemerintahan Belanda saat zaman kolonial dahulu masih berdiri dengan kokoh (Di kampus penulis dulu, bangunan peninggalan Belanda masih kokoh berdiri sedangkan gedung yang lebih baru temboknya udah retak-retak, payah bgt dah..).

Penemuan terbaru bidang konstruksi di Belanda adalah ditemukannya sistem pembangunan jalan yang bisa mengurangi tingkat kebisingan di perkotaan.

2. Ekonomi, Bisnis dan Manajemen

Sejak abad ke 17 Amsterdam sudah menjadi pusat perdagangan di Eropa, bahkan dunia. Maka dari itu, ilmu bisnis, ekonomi serta manajemen berkembang dengan pesat di Belanda.

3. Tata negara dan Sejarah

Sebagai negara yang sangat demokratis, Belanda merupakan tempat yang cocok untuk mempelajari ilmu ketatanegaraan. Sistem otonomi daerah yang dijalankan di Belanda sangatlah efektif dan teratur rapi. Selain itu, beberapa dasar ilmu negara kita memang sudah berasal dari Belanda, jadi bisa lebih mudah untuk mengkonsolidasi sistem tata negara di Belanda dengan di Indonesia.

Sebagai negeri yang pernah menjajah Indonesia, Negeri Belanda juga memiliki literatur sejarah yang lengkap dan bisa menjadi referensi bagi warga Indonesia yang ingin belajar sejarah. Pusat ilmu tata negara dan sejarah ini ada di Universitas Leiden (Salah satu universitas tertua di dunia, berdiri sejak 1575).

4. Seni dan Budaya

Sejak pertengahan abad 17 dunia seni di Belanda mulai maju dan berkembang, terutama di bidang seni lukis. Salah satu pelukis terkenal dari Belanda adalah Van Gogh. Peran Belanda sebagai pusat perdagangan saat itu membuat Belanda menjadi tempat berkumpulnya berbagai budaya di eropa yang turut memperkaya khazanah seni di negeri Belanda.

Sejak tahun 1950an, negeri Belanda mulai membuka program-program pendidikan berbahasa inggris yang terus berkembang sampai sekarang. Maka jangan heran, kalau Belanda menjadi salah satu tujuan utama dari seluruh mahasiswa di dunia untuk melanjutkan studi mereka.

Sebagai pusat dari berbagai macam jenis keilmuan di dunia yang bertaraf internasional, maka pantaslah jika kita kita sebut negeri Belanda sebagai gerbang dari komunitas global. Dan pergi belajar kesana merupakan tiket untuk masuk ke dalam komunitas global.

Gambar 2. Universitas Leiden tampak samping (Sumber gambar: www.strw.leidenuniv.nl)

Gambar 2. Universitas Leiden tampak samping (Sumber gambar: www.strw.leidenuniv.nl)

Belanda: Negeri Multikultural

Negeri Belanda merupakan negeri yang sangat toleran. Berbagai macam suku bangsa, agama, dan jenis pemikiran berkumpul dan berkembang disana. Maka dari itu Belanda sering disebut sebagai negara multikultural. Sebagai contoh keberagaman di Belanda, beberapa negara bagian di Belanda beragama Katolik, akan tetapi sebagian lainnya beragama Protestan. Hebatnya mereka tetap hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama lain. Bahkan penduduk agama Islam di Belanda merupakan salah satu yang terbanyak di Eropa (selain di Perancis).

Gambar 3. Masjid Mevlana di Rotterdam (Sumber gambar: www.flickr.com)

Gambar 3. Masjid Mevlana di Rotterdam (Sumber gambar: www.flickr.com)

Menurut cerita beberapa orang yang berkuliah disana, orang Belanda ramah-ramah dan selalu menerima pendatang dengan tangan terbuka (mungkin karena sebagian dari mereka pendatang juga). Mereka juga terbiasa hidup bergotong royong dan saling membantu (mungkin karena sejak dahulu terbiasa bekerjasama membangun dam). Paham pluralisme dan keterbukaan orang Belanda ini merupakan salah satu faktor utama yang menjadikan masyarakat Belanda sebagai suatu komunitas global. Hal ini juga membuat para pendatang (terutama kaum mahasiswa) bisa beradaptasi dengan cepat disana.

Gambar 4. Masyarakat kota Dordrecht  (Sumber gambar: www.travelpod.com)

Gambar 4. Masyarakat kota Dordrecht (Sumber gambar: www.travelpod.com)


Belanda: Salah Satu Pusat Wisata di Eropa.

Tentunya kalau kita dapat kesempatan belajar di negeri lain, kita pasti akan mencari negara yang indah dan memiliki banyak daya tarik wisata. Sehingga selain mendapatkan ilmu, kita juga bisa jalan-jalan dan bersenang-senang di negeri orang ;p. Dalam hal ini, negeri Belanda merupakan salah satu negara di Eropa yang memiliki banyak sekali daya tarik wisata.

Gambar 5. Salah satu rumah miring di Amsterdam  (Sumber gambar: www.phy.hr)

Gambar 5. Salah satu rumah miring di Amsterdam (Sumber gambar: www.phy.hr)

Orang-orang yang pernah pergi ke Belanda, pasti pernah berfoto dengan latar belakang kincir angin. Penghasil sumber daya listrik terbesar di Belanda ini memang merupakan ciri khas dari Belanda.

Bunga Tulip juga merupakan suatu obyek yang menarik para wisatawan di dunia untuk datang ke Belanda. Tiap tahunnya ada ribuan wisatawan yang datang ke Belanda hanya untuk melihat bunga ini. Bunga yang diimpor dari Turki sejak tahun 1593 ini memang bunga yang unik dan indah.

Gambar 6. Sekumpulan BungaTulip  (Sumber gambar: www.en.wikipedia.org)

Gambar 6. Sekumpulan BungaTulip (Sumber gambar: www.en.wikipedia.org)

Selain kincir angin dan bunga tulip, Belanda masih memiliki beberapa obyek wisata lainnya. Dari wisata yang bersifat edukatif sampai wisata yang menjurus kepada dosa (Red Light District dan wisata ganja Belanda);p..Maka dari itu tidak salah jika kita sebut Belanda sebagai salah satu pusat pariwisata di eropa, bahkan di dunia.

Studi di Belanda: Ticket to a Global Community

Seperti yang telah kita jabarkan sebelumnya, ada tiga aspek utama yang membuat Belanda menjadi pintu gerbang ke komunitas global, yaitu kemajuan ilmu pengetahuan, majunya pariwisata, serta masyarakat yang bersifat multikultural.

Maka dari itu, untuk mendapatkan tiket ke komunitas global, kita bisa mulai dengan belajar di negeri Belanda. Akan tetapi satu hal yang harus diingat, walaupun kita belajar di negeri lain, bukan berarti kita harus meninggalkan identitas kita sebagai warga Indonesia. Justru kita harus mengembangkan budaya kita agar turut memperkaya khazanah budaya di negeri lain yang kita tinggali.

Kita harus ingat budaya dan sifat dasar kita, serta melestarikan sifat-sifat dasar tersebut (kecuali budaya ngaret yah). Karena dimanapun kita berada, belajar, dan hidup kita tetaplah Indonesia!

indonesia1

(sumber gambar: edit sendiri dari gambar di PC saya)

Pengembangan Industri Pangan : Krusialkah?

•March 15, 2009 • 1 Comment

Semua warga Indonesia pastinya ingin Indonesia menjadi negara yg maju, stabil, dan bisa menyejahterakan seluruh warganya.

Gw jadi mikir, sebenernya jika kita mau membangun Indonesia ke arah yg lebih baik (adil,makmur, sejahtera), apa dulu ya yg harus kita perbaiki di negara ini? Hmm..agak susah sebenarnya, masih banyak bgt hal fundamental yang harus diperbaiki di negara kita seperti masalah pendidikan, kesehatan, pemenuhan kebutuhan pokok, dll..yg semuanya itu harusnya dirapihin secara bersamaan.

Jadi akhirnya gw coba ganti subyek pertanyaannya, di zaman industrialisasi kyk sekarang ini, industri apa yang harus dikembangkan oleh Indonesia biar bisa berkembang ke arah yg lebih baik?

Setelah mikir2 akhirnya gw sampai pada suatu kesimpulan bahwa pertama-tama kita harus mengembangkan industri pangan kita.

Loh, kenapa industri pangan bisa mempercepat pembangunan Indonesia?

Yah..ada beberapa dasar pemikiran kenapa gw bisa sampai ke kesimpulan kyk gt:

  1. Pangan adalah suatu hal yg sangat krusial, kebutuhan primer dari setiap bangsa. Maka dari itu, pemerintah harus sangat memperhatikan masalah ini. Jika kita mau masyarakat kita sejahtera, kita harus membuat mereka kenyang, make baju, punya tempat tinggal, dapet pendidikan dan terjamin masalah kesehatannya. Maka dari itu selain industri pangan, pengembangan industri tekstil juga sangat penting.
  2. Secara teoretis, suatu peradaban bisa berkembang jika memiliki suatu instrument of expansion (Carroll Quigley). Dari sini gw coba lihat, potensi apa yg dimiliki Indonesia yg bisa dijadikan instrument of expansion Indonesia ke depannya. Jawabannya adalah kekayaan alam, barang tambang, minyak, tanah yg subur, dan kekayaan laut yg berlimpah. Dari sini ada 3 industri yg sangat berpotensi untuk dijadikan instrument of expansion kita, yaitu industri energi, pertambangan dan pangan.
  3. Dari ketiga industri tersebut, yang paling feasible untuk dikembangkan lebih lanjut adalah industri pangan kita, kita pernah berhasil mengembangkan industri pangan kita di zamannya Pak Harto, sayangnya setelah reformasi pemerintah seperti tdk peduli dengan masalah pertanian ini, mungkin masih pada sibuk berebutan kekuasaan yg tercecer setelah Pak Harto jatuh. Industri pertambangan dan energi sebenarnya akan menjadi instrument of expansion yang sangat powerful untuk kita, akan tetapi sayangnya kedua industri ini saat ini justru lebih banyak dikuasai oleh pihak asing (baik dari teknologi maupun dari produksinya).
  4. Pengembangan industri pangan membutuhkan biaya yg relatif tidak terlalu besar. Kita bisa menggunakan teknologi2 pangan seperti yang dikembangkan oleh Jepang, tapi gw rasa kita ga terlalu memerlukan itu, karena kita punya lahan yg luas dan sumber daya laut yg berlimpah.
  5. Bisa dibilang negara kita punya pengalaman dalam pengembangan industri pangan, khususnya di sektor pertanian. Pak Harto dulu pernah sukses mengembangkan pertanian Indonesia sampai kita akhirnya pernah swasembada pangan. Yah..kalau dulu aja bisa, kenapa sekarang tidak??

Nah, kalo ngomongin prakteknya gmana nanti, menurut gw pengembangan Industri pangan ini mungkin bisa dilakukan oleh pemerintah kita dengan melakukan hal2 berikut:

  1. Bangkitkan kembali KUD-KUD kita, merekalah dulu motor gerakan pertanian di Indonesia. Peran mereka sebaiknya ditingkatkan, bukan hanya sebagai distributor dan penyedia bibit saja, tapi juga sebagai agen pengolahan (penggilingan padi), hal ini bisa memperpendek jalur distribusi sehingga keuntungan buat petani bisa bertambah. KUD juga bisa dikembangkan di desa-desa nelayan di Indonesia.
  2. Tentunya anggaran buat sektor pertanian harus ditambah. Untuk membenahi infrastruktur (irigasi, dll), pengolahan lahan, dan membeli benih2 yang berkualitas.
  3. Lakukan proteksi terhadap produk2 pangan kita, paling tidak sampai mereka mampu bersaing dengan produk dari luar.
  4. Benahi jalur distribusi pangan di Indonesia yang saat ini terlalu panjang dan ga efisien. .Jalur distribusi yg lebih pendek akan membuat harga komoditi menjadi lebih murah dan keuntungan dari petani/nelayan akan lebih besar.
  5. Industri pangan harus lengkap dari hulu ke hilir, kalau bisa bukan hanya secara proses pengolahan dan distribusi, tapi dari bahan baku dan peralatan juga harus bisa disiapkan secara mandiri oleh negara kita. Dengan ini, industri pangan kita akan lebih stabil.

Itu aja sih yg kepikiran ama gw, mungkin kalo ahli2 pada ngumpul bakalan ada strategi2 lain yg lebih ok dan feasible yg bisa dipake buat ngembangin industri pangan kita.

Gw percaya, kalo pemerintah kita bener2 ngembangin industri pangan kita dengan serius, dalam waktu kurang dari 5 tahun kita udah bisa maju di bidang pangan..Amin!!

Take the Power Back!

•March 5, 2009 • 4 Comments

Lagu yg keren bgt dari RATM..bener2 kagum gw ama band politik yg satu ini, mereka bener2 ngerti kondisi politik di US dan usaha2 penancapan pengaruh US ke negara2 lain saat itu…

Gw rasa liriknya pas bgt buat negara kita sekarang, dimana sistem politik, ekonomi dan pemerintahan kita terlalu dipengaruhi oleh US, sistem pendidikan yg sekarang mulai kyk US (privatisasi), pelajaran2 di sekolah (terutama sejarah) udah diisi ama kebohongan2, dan budaya barat udah makin merasuk ke generasi muda (kebanyakan budaya yg ga bener pula)..

Lagu ini membuat kita berfikir untuk berani melawan semua itu. Kita harus bisa berdikari, lepas dari ketergantungan terhadap US, sehingga kita bisa mulai berdaulat di negeri sendiri & ga cuma jadi mainannya US aja..

Jadi miris ngeliat noraknya masyarakat Indonesia pas obama terpilih kemarin..menaruh harapan ke presiden negara lain, menyedihkan bgt bukan? Hal ini didukung pula ama media2 kita yg beritanya itu2 aja..at least dari sini aja udah keliatan kalo saat ini emang kita diarahkan untuk berkiblat ke US, baik dalam pemerintahan, ekonomi, maupun politik..

Anyway, Ini liriknya(gw miringin yg penting2):

Rage Against The Machine – Take The Power Back

Yeah, the movement’s in motion with mass militant poetry
Now check this out…uggh!

In the right light, study becomes insight
But the system that dissed us
Teaches us to read and write

So called facts are fraud
They want us to allege and pledge
And bow down to their God
Lost the culture, the culture lost
Spun our minds and through time
Ignorance has taken over
Yo, we gotta take the power back!

Bam! Here’s the plan
Motherfuck Uncle Sam

Step back, I know who I am
Raise up your ear, I’ll drop the style and clear
It’s the beats and the lyrics they fear
The rage is relentless
We need a movement with a quickness
You are the witness of change
And to counteract
We gotta take the power back

Yeah, we gotta take the power back
Come on, come on!
We gotta take the power back

The present curriculum
I put my fist in ‘em
Eurocentric every last one of ‘em
See right through the red, white and blue disguise
With lecture I puncture the structure of lies
Installed in our minds and attempting
To hold us back
We’ve got to take it back
Holes in our spirit causin’ tears and fears
One-sided stories for years and years and years
I’m inferior? Whose inferior?
Yeah, we need to check the interior
Of the system that cares about only one culture
And that is why
We gotta take the power back

lagunya bisa didownload disini:

http://beemp3.com/download.php?file=3842533&song=Take+the+Power+Back

Apa yg bisa kita lakukan ya untuk take the power back??

Yg kepikiran sama gw diantaranya ini:

  1. Bangun satu Industri yang lengkap dari hulu ke hilir, sampai saat ini di Indonesia ga ada Industri yg lengkap dari hulu ke hilir, ini membuat kita selalu impor barang dari luar negeri..kalau mau mudahnya kita bangun industri pangan dan tekstil di Indonesia, karena yang paling lengkap saat ini ya 2 industri itu..
  2. Bangun pertanian kita, dalam hal ini gw sangat setuju ama salah satu partai yg sering nongol di TV..
  3. Bangun hubungan kerjasama dengan negara2 progressif (macam Venezuela), dan raksasa2 dunia lain (seperti Rusia dan Cina)..karena kalau ga ada backing yang kuat..kita malah bisa dihancurkan oleh AS..
  4. Ubah paradigma ttg pendidikan, selama ini kita lihat system ekonomi kita sangat Amerika sentris..dan itu yg dianggap paling benar(cih)..sampai2 orang yg berpandangan beda disingkirkan (contohnya pak Kwik Kian Gie). Harusnya kita mulai mempelajari sistem2 ekonomi lain yang mungkin bisa cocok dengan kondisi di Negara kita..
  5. Jaga BUMN2 kita, jangan malah dijualin..merekalah yg nantinya jadi pendorong ekonomi kita..
  6. Sadar sebagai warga Indonesia: bangga kerja di BUMN atau jadi PNS (bukannya di MNC), pake produk lokal, belanja di pasar tradisional (yah ini mah klise sih, tapi sebenernya amatlah penting..)

rage against the machine

Slumdog Millionaire – Drama Komedi+Realitas Sosial+Moral

•February 6, 2009 • 3 Comments

Karena penasaran ama film yg menang penghargaan Golden Globe ini, akhirnya gw donlod deh filmnya..setelah gw tonton, ternyata film ini emang pantas jadi pemenang penghargaan tersebut.

Film ini bisa dibilang kompleks, dengan banyaknya flashback yg beredar selama film berlangsung. Tapi karena memiliki ide dasar yang sederhana film ini tetap bisa dengan mudah kita cerna dan nikmati.

Film ini mengandung banyak bgt nilai2 moral dan pelajaran hidup, antara lain: kesetiaan, persaudaraan, pengkhianatan, cinta, harapan, kasih sayang dan persahabatan. Saat menonton film ini, kita akan dihadapkan pada situasi2 yang lucu, sedih, senang, dan bikin kesel sekaligus..lengkap deh pokoknya..

Tapi menurut gw, bagian terkeren dari film ini adalah bagaimana cara film ini menuangkan realitas sosial di India. Permasalahan seperti perselisihan kaum Muslim dan Hindu (tokoh utamanya muslim), adanya organisasi yang menggunakan anak di bawah umur untuk mengemis, mafia2 India, serta tingginya kesenjangan sosial disana bisa kita lihat di film ini.

2 Scene yang paling gw suka dari film ini:

  1. Saat polisi nanya kenapa si Jamal ga bisa jawab pertanyaan yang simpel, tapi justru bisa jawab yang susah. Jawabannya Jamal benar2 cerdas dan logis.
  2. Saat si pembawa acara Who wants to be a Millionaire-nya pura2 baik dan mau nipu dia dengan ngasih jawaban yg salah, tetapi dia justru milih jawaban yg beda, karena dari awal dia tahu si host acara ini ga suka ama dia. Dan dia udah kenyang ama yg namanya dibohongin dan dikhianatin.

Pesan terpenting dari film ini ada di scene paling awal dan paling akhir dari film ini, yaitu percayalah kepada jalan yang udah digariskan oleh tuhan untuk kita, dan jangan pernah berhenti berharap dan berusaha.

Film ini recommended bgt deh buat ditonton..

D. It is Written.

Ideological State – Antara Perang Dingin, Hitler, Israel, Indonesia

•February 6, 2009 • 2 Comments

Carroll Quigley dalam bukunya “The Evolution of Civilization” berpendapat bahwa peradaban barat berubah bentuk secara politik dari National States ke Ideological States sejak tahun 1950an..

Hal ini terbukti dengan terbaginya dunia dalam 2 ideologi besar pasca PD II, ideologi komunis yang dimotori Sovyet dan Kapitalis yang dimotori US. Sampai tahap ini, perang yang terjadi adalah perang untuk menjadi negara yang paling berpengaruh di dunia (Yg disebut masa perang dingin), nah sayangnya perang dingin ini ga bener2 dingin, muncul beberapa proxy war sebagai excess dari perebutan pengaruh antara US dan Sovyet di negara2 berkembang, antara lain Perang Korea, Perang Vietnam, Peristiwa Gestapu di Indonesia, dan perang Afghanistan..

Transformasi dari National State ke Ideological State inilah yang ga mampu dilakukan oleh Adolf Hitler saat memimpin Jerman, ideologi yg dikembangkan olehnya saat itu hanya bersifat nasional. Agresi2 yang dilakukannya ke negara lain cuma merupakan ekspansi geografis. Sehingga yang muncul hanyalah perlawanan2 terhadap Jerman dari negara2 yang diinvasi, serta serbuan pihak sekutu (Inggris dan AS) yang bergerak atas nama kemanusiaan dan keadilan.

Dari sini gw coba menyorot keadaan di Palestina sekarang. Menurut gw, akan sangat sulit bagi Palestina untuk bisa menang atas Israel. Karena yang dilawan oleh mereka bukan hanya 1 negara (national state) bernama Israel, akan tetapi suatu Ideological State yang bernama Zionisme. Zionisme ini ga cuma ada di Israel tentunya, tapi ada di negara2 lain juga, terutama di AS (dengan organisasi AIPAC-nya). Inilah yang membuat PBB mandul untuk mengatasi konflik di Palestina.

Sedangkan dari kubu palestinanya sendiri, National State-nya saat ini terpecah menjadi 2 kelompok besar antara Fatah dan Hamas, dan belum ada jalan yg jelas menuju rekonsiliasi antara keduanya..

Sebenarnya, Palestina bisa lebih kuat jika didukung oleh suatu Ideological State yang bergerak atas nama Islam. Akan tetapi, di antara negara2 islam pun sudah terpecah2 ideologinya, ada yg Syi’ah dan ada yg Sunni..yang tampak lebih mendukung pergerakan Palestina hanyalah negara2 yg mayoritas penduduknya Syiah seperti Iran dan Lebanon..

Bagaimana dengan negara kita ya?

Ideologi dasar kita (Pancasila) yang diturunkan ke dalam UUD 1945 saja sudah sering diinjak2 oleh kebijakan2 pemerintah dan UU lainnya..

Jadi inget jargon zaman Soeharto dulu: “menjalankan pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekuen. Kalo aja Soeharto-nya sendiri serta penerus2nya konsekuen menjalankan jargon ini, Indonesia mungkin dah jadi bangsa yang hebat…

Test Ball

•February 6, 2009 • 3 Comments

Tes..tes… Karena masih pengangguran dan ga tau harus mengerjakan apa, jadi iseng nyoba bikin blog aja deh..(padahal daridulu dsuruh bikin males bgt;p)