Latar Belakang
Dari dulu gw ngerasa malees bgt kalo belajar tentang ekonomi, ga tau kyknya susah aja gitu masuk ke otak (gara2 bacanya males2an juga si.. ;p). Tapi kondisi ekonomi di Indonesia yang makin carut marut ini membuat gw tertarik untuk mulai baca2 buku tentang ekonomi. Sebenernya kenapa sih dari dulu kita ga bisa makmur2? Itu pertanyaan yang muncul di otak gw.
Setelah cukup berpusing-pusing ria membaca beberapa buku, gw mulai mendapatkan titik terang apa sebenarnya permasalahan ekonomi Indonesia saat ini. Masalahnya adalah, Sistem Ekonomi yang digunakan di Indonesia saat ini membuat kita tidak bisa mandiri, ekonomi nasional kita belum bisa lepas dari ketergantungan terhadap ekonomi Internasional, sehingga sangat labil dan mudah goyah.
Sistem Ekonomi Indonesia saat ini
Sistem Ekonomi di Indonesia saat ini menurut gw udah sangat melenceng jauh daripada apa yg sebenarnya dibangun oleh para Founding Fathers kita. Saat ini kita terjebak di dalam sistem ekonomi neoklasik (sejak adanya Washington Consensus di akhir tahun 1980an dikenal juga dengan neoliberalisme), yang memiliki asumsi dasar sebagai berikut:
- Kebutuhan manusia tak terbatas
- Sumber Daya terbatas
- Utility maximization of self interest yg relatif tak terbatas.
Dari 3 asumsi dasar itu, timbul anggapan bahwa naluri dasar manusia adalah untuk bertarung untuk memperebutkan sumber daya. Manusia disebut sebagai homo economicus (utilitarian, opportunistic, individualistic, self-centred rationalist, materialistic) , bukan sebagai homo ethicus (cooperative, truthfull, virtuous).
Dari pandangan inilah muncul prinsip ekonomi yang diajarkan kepada kita mulai dari SMP, “pengorbanan sekecil2nya untuk hasil sebesar2nya”. Teori dan Hukum dasar ekonomi (division of labour) yg dicanangkan oleh Adam Smith juga berkaitan dengan hal ini. Dengan teori invisible hand-nya, Smith menentang intervensi dari negara, dan membatasi peran negara di bidang pertahanan, hukum, dan pekerjaan publik saja.
Ga usah diperdebatkan lagi lah ya, emang sistem ekonomi seperti ini yang sekarang berjalan di Indonesia. Dari SMP ampe kuliah kyknya isi pelajaran ekonomi bab 1 pasti kyk gt..hehehe..
Sistem ekonomi yang berjalan di Indonesia dari awal tahun 1970an ini (yup, dari awal2 jaman Pak Harto) sebenarnya sangat bertentangan dengan dasar negara kita. Kalau kita lihat dasar UUD 1945, Indonesia diarahkan untuk menjadi suatu negara Sosialis-Demokratis atau SosioNasionalis (tp ga kyk NSDAP/NAZI-nya hitler yah ;p).
Sistem ekonomi pancasila (atau yang sekarang disebut-sebut ekonomi kerakyatan) mengandung suatu moralitas ekonomi yang berakar pada kedaulatan rakyat, dimana kepentingan masyarakat lebih utama dari kepentingan individu. Hubungan ekonomi berdasarkan asas kekeluargaan bukan asas individualisme. Masalah ekonomi bukan hanya soal persaingan, akan tetapi juga soal bekerjasama (koperasi). Dan pengutamaan kepentingan nasional tanpa melupakan tanggung jawab global.
Ironisnya, hanya sistem ekonomi neoklasiklah yang dikembangkan di lingkungan akademik di Indonesia. Bahkan dianggap satu-satunya paham yang paling benar. Profesor-profesor di Indonesia yang berpandangan strukturalisme atau yang menganut kapitalisme ala Jerman dan Perancis dikucilkan, dianggap naif, bahkan ada yang disingkirkan dari pemerintahan, contohnya: Pak Soemitro Djojohadikusumo diberhentikan dari menteri keuangan/ekonomi menjadi menteri pertambangan karena saat itu ingin mengadaptasi sistem ekonomi Jerman di Indonesia.
Kekurangan Sistem Ekonomi Pasar/Neoklasik/Neoliberal
Dalam suatu tulisannya (1936), Bung Hatta pernah menulis bahwa:
“Teori Adam Smith berdasar pada perumpamaan bahwa manusia adalah orang ekonomi, yang mengetahui keperluannya setinggi2nya, yang mengetahui kedudukan pasar, yang pandai berhitung secara ekonomi dan rasional, dapat menimbang sendiri apa yang beruntung baginya dan apa yang merugikan dan kemudian ia sama kuat dan sama paham dengan lawannya.
Akan tetapi orang ekonomi seperti lukisan ini hanya ada dalam dunia pikiran, sebagai dasar bekerja bagi penyelidik ilmu, dan tak ada dalam masyarakat yang lahir, yang menyatakan satu golongan kecil yg aktif dan bermodal cukup, yang memutuskan segala soal ekonomi, dan satu golongan besar, orang banyak, yang pasif dan lambat, yang tiada mempunyai tenaga ekonomi, yang kehidupannya terserah kepada keputusan golongan yang pertama..
sebab itu dalam praktik laisser-faire stelsel – persaingan merdeka dll – tidak bersua maksimum kemakmuran yang diutamakan oleh Adam Smith..Ia memperbesar mana yang kuat, menghancurkan mana yang lemah ”
Tulisan Bung Hatta di tahun 1936 itu terbukti benar sampai saat ini, ditandai oleh semakin besarnya angka Gini Index Ratio (ukuran kesenjangan) di negara-negara yang menganut sistem ekonomi kapitalisme/neoklasik (termasuk di Indonesia).
Ketidakadilan ini tidak hanya terjadi intranation akan tetapi internation juga. Kalau dipikir-pikir, kenapa sih Amerika dan Inggris selalu memperjuangkan masalah globalisasi dan Perdagangan bebas di dunia ini? (sampai2 di G-20 summit kemarin Perancis ama Jerman kesal). Karena merekalah yang “kuat” di dalam sistem dunia ini, yang memiliki modal, yang butuh tempat investasi murah, yang akhirnya mengeksploitasi negara-negara berkembang/ ”lemah” seperti Indonesia.
Akibatnya, Sistem Ekonomi pasar ini juga menghambat Indonesia untuk mencapai kemandirian ekonomi, bangsa kita ini dituntut untuk terus menjadi eksportir bahan baku, menjadi tempat tenaga kerja murah bagi perusahaan-perusahaan asing dan tidak memiliki jaringan industri yang lengkap dari hulu ke hilir.
Isu saat ini: Neoliberalisme Baik atau Buruk?
Pemerintah kita saat ini tampaknya tidak mau mengakui bahwa selama ini kita menjalankan sistem ekonomi neoklasik. Presiden kita selalu menyangkalnya, calon wakilnya pun demikian, tidak mengakui bahwa dirinya penganut aliran neoklasik.
Dalih mereka adalah saat ini Indonesia tidak menerapkan pasar bebas, dan pemerintah masih melakukan beberapa intervensi dalam beberapa kebijakan2 ekonomi.
Menurut gw, dalih mereka ini justru menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti apa yg dimaksud dengan neolib. Neolib bukanlah hanya sebatas permasalahan free trade atau bukan. Tapi dari pola pikir, policy, serta “set of procedures” yang digunakan oleh pemerintah selama ini.
Pak Boediono di acara Economic Challenge di Metro TV berkata bahwa fokus pemerintah ke depan adalah menjaga pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sehingga kesejahteraan masyarakat Indonesia akan meningkat. Mungkin beliau sendiri tidak sadar statement beliau di acara tersebut menunjukkan bahwa ia adalah seorang penganut teori ekonomi neoklasik.
Sistem ekonomi neoklasik memang selalu berfokus pada pertumbuhan ekonomi, melihat pertumbuhan ekonomi secara makro melalui meningkatnya GDP, serta mengharapkan pertumbuhan ekonomi tersebut akan menstimulasi masyarakat lainnya untuk tumbuh(multiplier effect). Bertolak belakang dengan sistem ekonomi kerakyatan/pancasila yang mengutamakan pembangunan masyarakat, industri2 nasional serta “grass root ekonomi” sehingga nantinya ekonomi nasional akan tumbuh dengan sendirinya. Yah, kalo boleh gw simpulkan sistem ekonomi neoklasik tuh “result oriented”, sedangkan sistem ekonomi kerakyatan lebih ke “process oriented”.
Sistem ekonomi sebenarnya ga ada yg bener/salah, semuanya tergantung kondisi negara yang akan menggunakannya. Dan menurut gw, Indonesia ga cocok menggunakan sistem ekonomi neoklasik. Kenapa?karena Indonesia belum punya Sistem Perindustrian yang kuat dan belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri, karena dalam ekonomi neoklasik yg menang adalah yang besar dan yang memiliki modal. Sistem ekonomi neoklasik sangatlah cocok jika digunakan oleh negara2 yang sudah kuat secara finansial dan infrastruktur industrinya sudah lengkap (Kyk Cina).
Jika kondisi seperti ini berlanjut terus di Indonesia, tentu akan sangat berbahaya buat negeri kita. Kenapa bahaya? Coba kita telaah lagi sebenarnya apa yg sedang terjadi di negeri kita ini:
- Pertumbuhan ekonomi kita saat ini salah satunya kita dapatkan dari surplus neraca perdagangan, yang didapatkan dari meningkatnya nilai ekspor. Sebenarnya apa yg selama ini kita ekspor? Tentu saja bahan baku. Kenapa kita tidak mencoba mengolah bahan baku tersebut sendiri agar kita tidak perlu mengimpornya kembali dari luar negeri? Jika sistem seperti ini terus berlanjut, Indonesia ga bakalan bisa mandiri.
- Ketidakmampuan negara mengelola sumber daya alamnya sendiri juga disebabkan oleh paham neoklasik ini. Sebagai contoh: perusahaan minyak asing merajalela di Indonesia dan terus menerus mengeruk kekayaan negara kita, alasan pemerintah saat ini adalah Pertamina belum mampu memproses dan mengelola minyak secara efisien (cost produksinya sekitar $20/barrel) dibandingkan dengan perusahaan2 asing ($5-$8/Barrel). Menurut gw, seharusnya pemerintah bukannya malah melempar sumber daya kita untuk diolah oleh pihak asing, tapi mendidik dan menggunakan pertamina agar mereka bisa bekerja secara efisien.
- Multiplier Effect yg diharapkan oleh pemerintah tidak berjalan dengan baik, sehingga kesejahteraan masyarakat tak kunjung naik serta kesenjangan antara kaya dan miskin meningkat. Kenapa multiplier effect ini ga bisa terjadi? Sebagai ilustrasi simpel aja yah: “kalau orang udah kaya, dia bakal belanja di supermarket yg pastinya lebih nyaman daripada pasar tradisional, dia bakalan menggunakan produk2 berkelas dari luar negeri dibandingkan dengan produk-produk lokal jadi dananya ga bakalan mengalir ke kelas bawah”. Atau kalau kita mau ilustrasikan di dunia Industri : “Untuk menekan cost, perusahaan akan memilih komponen-komponen murah yg diimpor dari cina dibandingkan produk lokal yg mungkin lebih mahal atau belum teruji kualitasnya, efeknya adalah UKM kita ga ada yg maju”.
- Privatisasi BUMN yg semakin gencar dengan alasan profesionalisme dan efisiensi. Ini merupakan salah satu ciri utama dari neolib. BUMN merupakan aset negara, instrument of expansion, accumulation regime, seharusnya pemerintah membuat mereka bisa bekerja secara profesional dan efisien, bukan malah dilepas kepemilikannya ke swasta/asing. Itu namanya lari dari tanggung jawab. Pemerintah sekarang berencana melepas KAI dan PT.Krakatau Steel, sangatlah rugi jika kita jadi melepas KS ke Lakshmi Mittal. Industri baja adalah salah satu motor pengerak pembangunan nasional, dari sanalah nanti bisa berkembang industri otomotif nasional, perumahan rakyat, dll..
Semoga saja akan ada perubahan dari sistem ekonomi Indonesia ke depannya, sehingga bisa meningkatkan taraf hidup orang Indonesia (batas kemiskinannya jangan 200rb/bulanlah, kelewatan itu), dan menjadikan Indonesia sebagai negara yg mandiri dan maju.
I Say No to “Lanjutkan”!!
Sumber:
‘Regulation Theory’. Robert Boyer
‘Ekspose Ekonomika’. Sri Edi Swasono
‘Global Inequality’. David Held